Pelayaran Lingkar Nusantara II, Lombok Timur “Kenangan Sampai Mati”

Waktunya untuk berbagi!! Aku dari pertama kali bikin platform ini pengen banget membagikan cerita aku tentang Pelayaran Lingakar Nusantara (Pelantara) II, Lombok Timur, kegiatan “legal” tingkat nasional pertama yang aku ikuti, Btw ini kegiatannya bulan Februari 2013, tapi aku uda pernah ikut Perkemahan Wirakarya di Aceh tahun 2010 dan Raimuna Nasional 2012 secara “ilegal”. Bahasanya itu tahun 2010 peserta masukan dan tahun 2012 pemantau kegiatan :’)

Kontingen Kalimantan Barat/Pelantara II

Wes kita lanjut 🙂 Nah, kegitatan Pelantara ini dimulai tanggal 9-27 Februari 2013, uda lama banget ya baru aku cerita 🙂 Kegiatan ini adalah kegiatan berlayar Saka Bahari tingkat Nasional dari Jakarta – Tegal – Surabaya – Bali – Lombok PP menggunakan kapal LPD KRI Surabaya-591. Here we go!!

Aku mulai dari Pontianak, waktu itu ngurus administrasi masih ribet banget, aku harus ke Lanal Pontianak (sekarang Lantamal XII Pontianak) dan ke Kwartir Daerah Kalimantan Barat, serta harus menghadap sekretaris Kwartir Cabang untuk meminta surat rekomendasi, pokoknya ribet banget deh, ngrusnya kalau ga salah hampir 3 minggu dan pasti pergi ikut pelayaran itu h-4!! Bayangin deh, harus seberapa siap aku waktu itu, soalnya aku uda putus asa untuk bisa ikut ditengah tidak ada kepastian.

Sampai di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

H-3 akhirnya kami berangkat dari Pontianak ke Jakarta melalui via udara, waktu itu harga tiket pesawat cuma 280k pada saat Tahun baru China atau Imlek, sampai di Jakarta malam hari, kami menginap di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, kebayang gak sih aku yang nothing jadi something? wkwkwk.. Aku ingat banget malam-malam kami kelaparan dan ga ada yang tau Jakarta waktu itu, untungnya ada kak Bambang, beliau purna DKN dan orang Kalimantan Barat juga 🙂 diajaklah kami makan pas malam itu, aku lupa makannya apa, yang jelas seperti lamongan gitu.

Lobby Kwartir Nasional

Besoknya pagi-pagi aku uda keliaran ke Monas, oh ya dari Kwarnas ke Monas cuma sebatas sebrang jalan, cuma memutarnya agak jauh sekitaran 20 menit 🙂 Aku keliaran habis waktu Subuh, itupun uda rame Monas waktu itu, jalan-jalan sampai pagi, aku makan di lapak PKL, makan soto betawi, zaman itu belum populer sebelum makan foto dulu, waktu itu cuma doa langsung makan *ups..

Kabur dulu ke Monas pas subuh

Siang hari kami secara rombongan baru deh keliling dan memasuki Monas, waku itu ketemu rombongan kontingen dari Aceh, keliling Monas buat aku jadi orang yang sepok, karena banyak sejarah didalamnya, mungkin juga dianggap aneh karena heboh sendiri 🙂 Sempat jungkir balik untuk foto, lalu ditambah lagi duduk gaje dipuncak Monas karena kecapekan, wkwkwk pokoknya absurd banget deh waktu itu.

Berfoto dengan Kontingen Aceh
Maafkan kegilaanku 🙂

Sore hari kami langsung menuju Kolinlamil di Jakarta Utara, wah makin exaited aku, pertama kali sampai langsung melihat KRI Surabaya yang super gede di depan mata, you know my feel? I don’t know, what amazing experience I have. (lebay eh) Sore hari kami langsung diizinkan memasuki kapal yang besar ini, wah deg deg-an sampe bego, masuk langsung nyelonong dan kena tegur, wkwkwk..

Kolilamil dengan latar belakang KRI Surabaya

Keesokan paginya upacara pembukaan Pelantara II, waktu itu langsung disuruh jadi pemimpin di depan, padahal yang lebih tua banyak 🙂 yaudahlah, sekali-sekali memimpin mereka yang tua, walaupun aku bener-bener ngeluh waktu itu. Karena kegiatan udah dimulai, foto-foto deh kami di heli deck pake baju pramuka, sumpah aku itu orang paling heboh, foto sambil lompat-lompat, wkwkwkwk.. Ga terasa kapal uda ninggalin daratan dan aku sangat semangat waktu itu 🙂

Suasana Pembukaan Pelantara II diisi dengan penampilan Drumband

Hari pertama di kapal aku gila-gilaan, apapun aku lakukan, bahkan sampai main basket disini 🙂 FYI, dulu media sosial ga sepopuler sekarang dan kami yang berlayar disini sama sekali ga tergantung sama samrtphone seperti sekarang, palingan kalau ada sinyal baru aku ngabarin orang tua, selebihnya kami fokus dengan kegiatan kami selama Pelantara.

Berfoto dengan Kak Ririn dari Jawa Barat setelah kapal berlayar

Aku sampai di tujuan pertama kami, yaitu Kota Tegal, karena perairan dangkal maka kami menggunakan LCVP atau sejenis sekoci angkatan laut ntuk ke darat, perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, dari dermaga kami memakai bis untuk ke Alun-alun Kota Tegal dan berjalan sampai ke Pendopo Walikota Tegal. Di pendopo Kota Tegal kami disambut oleh walikota langsung selain itu kami juga dihidangkan sedikit snack sebelum akhirnya kembali ke kapal, nah disini kami menjemput Kontingen Jawa Tengah khususnya Kota Tegal.

Persiapan menuju Kota Tegal

Di Kota Tegal ada beberapa kegiatan yang kami lakukan, dari penanaman pohon sampai dengan Donor darah, sayangnya pada saat donor darah aku ga diizinkan karena sedang kecapekan :’)

Tanam Pohon dulu 🙂
Suasana Donor Darah
Lanal Tegal, Jawa Tengah

Surabaya, ketika kami baru tiba disini, kami langsung disambut oleh KRI Cakra dan Tugu Monjaya, kalau ada yang kurang jelas, KRI Cakra adalah kapal selam milik angkatan laut Indonesia dan Tugu Monjaya adalah Tugu Perwira Angkatan Laut yang berdiri gagah di Armatim.

Monumen Monjaya
Latar Belakang Jembatan Suramadu

Di Surabaya pada waktu pesiar kami dibawa menuju Jembatan Merah, sebuah tempat perjuangan pada zamannya, lalu aku juga sempat ke Sunan Ampel untuk membeli sedikit oleh-oleh dari kota ini. (Btw, disini aku sedikit nakal, karena keluar dari rombongan untuk mencari oleh-oleh, untung saja aku ga ditinggal di Jembatan Merah) Cerita disini aku mendapatkan teman seorang tukang becak yang menemani aku ke Sunan Ampel, banyak cerita sampai kartu nama yang diberikan kepadaku 🙂

Sebelum Pesiar ke Jembatan Merah
Foto dengan Pinkonda Kalimanatan Barat
Mural kota Tua dan Kampung Chinese di Surabaya

Besoknya kegiatan yang paling spesial di Armatim adalah kami mengunjungi KRI Dewaruci, KRI yang sangat legendaris dan aku sering bermimpi untuk berlayar dengan kapal ini, tapi sayangnya sampai sekarang aku tidak pernah bisa.

KRI Dewaruci
Di Buritan KRI Dewaruci

Sore hari, kami menuju Bali, perjalanan ke Bali membutuhkan waktu satu malam, nah kami sampai di Bali itu pagi hari, kami yang dari daerah pelosok agak norak, karena di Bali, tapatnya di Tj. Benoa, aku melihat Kapal Pesiar dan Pesawat yang lewat tepat diatas KRI Surabaya. (Tolong jangan diketawain) :’)

Sunset di Bali yang sangat indah
Kapal Pesiar di Tj. Benoa
Pesawat Qatar Airlines yang melintas tepat di atas KRI Surabaya

Di Bali aku dapat jatah pesiar di Pantai Sanur, nah waktu itu uda hangat isu tolak reklamasi di Pantai Sanur, termasuk juga di Tj. Benoa, sebenernya aku ga terlalu ngerti maksud dari reklamasi. Di Bali pada sambutan Gubenur Bali mereka dengan bangga memamerkan Tol Nusa Dua yang di hubungkan ke Bandara dibangun dalam waktu 6 bulan, itu sih seingat aku. Kami di Bali hanya seharian sebelum bertolak ke Labuhan Haji, Lombok Timur. Nah kontingen dari Bali naik juga nih, mereka heboh banget waktu itu ketika masih di bawah asuhan kak Made (alm).

Di Sanur Bali

Setelah berlayar lagi selama semalam, akhirnya aku sampai di Lombok, tepatnya di Labuan Haji, Lombok Timur. Kami dipindahkan ke darat dengan menggunakan LCVP dan LCU, karena sampainya siang menjelang sore, kami tidak ada kegiatan. Di Labuan Haji ini aku akan berkemah sambil melakukan kegiatan sosial dan pesiar.

Ekspresi ketika baru sampai bumi perkemahan

Hari kedua kami di Labuan Haji adalah upacara pembukaan dan bakti sosial, oh ya kalau kegiatan nasional pasti akan ada namanya upacara Bhineka Tunggal Ika atau BTI yang dipimpin langsung oleh Dewan Kerja Nasional (DKN), setelah itu ada tarian Samudra dengan lagu Laksamana Raja Dilaut, btw bukan aku yang nari, soalnya aku ga bawa baju adat daerah Kalimantan Barat. Malamnya kami disini pasti pentas seni 🙂

Lapangan Upacara di Lombok
Situasi Kontingen mengikuti Upacara
Kapak Bhineka Tunggal Ika

Hari ketiga kami mendapat jatah pesiar ke Air Terjun Otak Kokok Joben di Lombok Tengah. Air terjunnya kecil aja sih, tapi kalau untuk penyegaran diri memang cocok sih. Dilanjutkan dengan ke Desa Sade, aku disni cuma sempat foto doang dan diakhiri ke Pantai Kuta Mandalika, Lombok. Tahun 2013 disini masi asri, belum ada hotel bahkan jalan aja masih dari tanah, uniknya pantai ini adalah pasir seperti mutiara. Sebenernya sore ini aku lompat dari pelabuhan seperti cliff jump, tapi sayang yang punya foto dan video kami lompat dari pelabuhan ga tau siapa orangnya.

Air Terjun Otak Kokok
Selama Perjalanan dari Lombok Timur ke Lombok Tengah
Pasir Mutiara di Pantai Kuta Mandalika

Hari keempat dimulai dengan bakti sosial, karena aku sudah ikut pesiar kemarin, aku ga diizinkan buat bakti sosial, karena kami dari Kalbar memang rame, makanya kami harus bergantian, pada saat bakti sosial kami mendapat kabar kalau malam ini juga kami harus kembali ke kapal, entah apa alasannya dari pagi bagi yang tidak ada kegiatan sudah packing. Sore hari kegiatan perkemahan langsung ditutup dan malam api unggun dan pentas seni dilaksanakan sampai tengah malam. Sekitar jam 12 malam kami mulai dipindahkan ke kapal lagi menggunakan LCVP dan LCU dan berakhirlah hari paling melelahkan.

Situasi Upacara Penutupan
Dengan Kontingen Bali
Dengan Kontingen Sulawesi Selatan

Pagi ini kami di kapal serasa hampa karena kegiatan yang padat semalam, ga ada olahraga pagi, hanya sebagian peserta aja yang naik, ada yang main basket dan ada juga yang jogging di geladak heli/buritan kapal dan hari ini bener-bener free, ga ada kegiatan sama sekali dan aku menghabiskan waktuku selama dikapal dengan bermain basket.

Laut Bali

Setelah satu malam berlalu, akhirnya kami sampai juga di Bali pada saat sore hari, malamnya kami mendapat jatah pesiar ke Krisna dan Pantai Kuta Bali. Oh ya, disini kami sempat kena tilang polisi Bali gara-gara ngelanggar lampu merah, hehehe.. Kami juga telat kembali ke KRI karena kasus tilang yang menimpa kami, untungnya kami tidak kena hukum atas perbuatan kami 🙂

Krisna Bali
Pantai Kuta, Bali

Besok paginya kami pergi menuju Lapangan Puputan untuk melakukan pawai Pramuka dari seluruh Indonesia, FYI, kontingen NTB masih ikut kami untuk pawai loh. Jadi mereka ikut kapal ke Bali hanya untuk pawai sama pesiar aja 🙂 Sore harinya kapal akan bertolak ke Surabaya, disinilah perpisahan kami dengan kontingen Bali, huuu.. sedih..

Lapangan Puputan

Sore harinya kami bertolak ke Surabaya, nah kami menghabiskan 1 harian penuh di kapal sebelum sampai Surabaya, 1 harian ini kami tidak ada kegiatan khusus, hanya berolahraga dan piket seperti biasa. Selama berlayar kami disuguhkan oleh pemandangan pesisir Bali yang sangat indah dengan latar belakang Gunung Agung.

Laut Jawa, Perjalanan ke Surabaya

Sampai di Surabaya pada sore hari, kami mendapatkan kegiatan bebas, nah disini aku di ajak oleh kak Riana jalan-jalan keliling Surabaya, terutama ke Plaza Surabaya bersama anak Jakarta. Ketika di Plaza Surabaya kami diajak makan Soto Madura yang ternyata isinya itu banyak jeroan (usus, paru dan hati) wkwkwk.. aku ga bisa makan jeroan loh..

Soto Madura

Hari kedua di Surabaya kami menuju Akademi Angkatan Laut (AAL) yang disambut langsung oleh Gubenur AAL. Disini kami diperlihatkan pertunjukan Drumband ALL dan ada sesi tanya jawab juga, banyak dari peserta yang pengen banget jadi Taruna AAL, tapi sayangnya aku uda ga bisa lagi, soalnya uda tua dan bukan dari SMA jurusan IPA (regulasi yang dulu) Pulang dari AAL aku menyempatkan diri berfoto dengan Gong Raksasa dan mengunjungi Museum Monjaya, diatas sini juga bisa menikmati pemandangan Kapal Perang yang sangat indah.

Bersama Taruna AAL
Gong Raksasa Armatim
Pemandangan dari Puncak Monjaya

Sore harinya kontingen dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, NTB, NTT dan Maluku turun di Surabaya, nah disinilah awal cerita masalah dimulai, banyak barang peserta yang hilang, banyak dugaan barang tertukar atau tidak sengaja terbawa turun di Surabaya. Sore harinya kami bertolak menuju Tegal, berlayar ke Tegal memakan waktu satu harian penuh.

Foto Terakhir di Armatim

Kami hanya sampai perairan Tegal saja, karena kontingen yang pulang yaitu Jawa Tengah dan Yogjakarka menggunakan LCVP. Waktu pemulangan peserta dari kedua kontingen tersebut juga sangat singkat, hanya sekitar 3 jam lego jangkar di tengah Laut Jawa perairan Tegal, malamnya kami berangkat menuju Jakarta.

Situasi pemulangan Kontingen Jawa Tengah dan Jogjakarta

Malam ini adalah malam terakhir kami di KRI dan di Laut Jawa. Malam perpisahan kami setelah berlayar dan berkemah hampir 3 minggu lamanya bersama. Malam perpisahan cukup emosional, banyak yang sedih karena harus berpisah, tidak sedikit yang diam di hanggar heli menikmati laut malam untuk terakhir kalinya.

Situasi malam terakhir di KRI Surabaya

Susah, senang dan sedih memang menjadi satu di pelayaran ini, dari makanan yang menunya “TAI” (telur, ayam dan ikan) syukur-syukur kalau siang hari kami dapat daging, itupun jarang banget. Harus piket setiap 5 hari sekali di Pantry, belum lagi harus belarian ke hanggar heli karena sudah waktu kegiatan. Ah, momen yang susah banget untuk dilupakan deh :’)

Suasana makan yang bikin rindu

Sore ini tanggal 26 Februari kami sampai di Tanjung Priok, kami tidak bersandar di Kolilamil, kami bersandar di JITC III, kami langsung melakukan persiapan upacara penutupan kegiatan pelayaran. Sumpah sedih banget kalau uda ingat momen ini. Yah mau gimana ya, pasti kangen di bangunkan pagi-pagi dengan peluit Angkatan Laut. Ketemu teman seluruh Indonesia sambil bercanda ria, belum lagi olahraga bareng yang bikin kangen, beneran rindu deh.

Sampai di Jakarta

Pengen cerita yang memang sesuatu yang wow banget selama pelayaran. Aku dengan kontingenku dari Kalimantan Barat tidak saling mengenal, kami baru mengenal satu sama lain pada saat h-1 pelayaran. Yel-yel dibuat pada saat naik kapal, bener-bener ga ada persiapan deh.

Foto Kontingen Kalbar ketika di Armatim

Bertemu dengan orang-orang hebat dari seluruh Indonesia, berlayar dari Jakarta sampai Lombok. Ketemu dengan Kak Uus dari AL, Kak Munatsir Amin seorang pencipta lagu pramuka dari Lampung, Kak Kingkin Suroso, Ka Dispotmar waktu itu dan Kak Soebagyo sesepuh Samudara yang sangat aku kagumi.

Kak Kingkin dan kak Munatsir Amin
Kak Bagyo dan Kak Uus
Ekspresi aku sekarang ketika melihat foto masa lalu 🙂

Semua memang uda berlalu, uda 7 tahun dari hari ini. semoga ada waktunya aku untuk kembali kesini dan aktif lagi di pramuka. 🙂 Terimakasih yang sudah membaca. Salam


Yandy Koresy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *