Pelayaran Lingkar Nusantara III, Prestasi Pertama dan Terakhir Tingkat Nasional

Pelantara III, mungkin salah satu momen yang bener-bener ngubah hidup aku, dimana aku bisa beprestasi di tingkat nasional, walaupun kejadian ini hanya sekali dalam seumur hidup, tapi aku bangga dengan pencapaian ini.

Cerita ini bermula dari aku yang berhasil membangun dan menghidupkan kembali Saka Bahari di Kalimantan Barat tepatnya Kota Pontianak, mengadakan perekrutan dan berkoordinasi sana kemari sampai harus menghadap Komandan Lanal waktu itu (sekarang sudah menjadi Lantamal) dan memang aku berhasil, sebenernya yang dikirim dari kalbar ada 3 orang, tapi sayangnya hanya 2 orang saja yang berangkat pelayaran. Cerita rumit aku di Kalbar terjadi dan aku mulai dimusuhin sama orang yang menganggap aku tidak adil soal itu.

Sebenarnya proses aku ke Jakarta uda ribet banget, mulai dari ekspetasi memakai kapal, lalu ditambah sesudah lebaran tiket mahal banget, dengan proses yang ribet inilah akhirnya kesampaian pakai pesawat dan sampai ke Jakarta. Enak banget ya ekspetasi Kapal dapatnya Pesawat 🙂 Btw, waktu pelayaran ini aku masih menggunakan uang pribadiku sendiri.

Berangkat menuju Jakarta

Seperti biasa kalau aku di Jakarta pasti aku nginapnya di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka atau Kwarnas, Kwarnas bagiku memang tempat transit karena kebetulan memang kenal dengan Dewan Kerja Nasional waktu itu, seperti biasa kalau uda di Jakarta pasti aku berkunjung ke Monas walaupun hanya malam hari, malam hari di Monas aku bisa melihat sekumpulan anak-anak dan orang dewasa bermain futsal bersama-sama.

Di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Memulai Kegiatan Pelayaran

Paginya aku langsung menuju Kolilanmil via busway dan langsung dioper ke Terminal JITC II bersama dengan kontingen Jogjakarta. Di JITC II kami bermalam dulu sebelum besok upacara pembukaan Pelantara III. Oh ya, Pelantara III ini mengambil rute yang lumayan jauh, mulai dari Jakarta – Makasar – Tj. Batu (Kaltim) – Kwandang (Gorontalo) – Makasar – Jakarta. Disini juga aku mengikuti tradisi mandi khatulistiwa. Mandi khatulistiwa sendiri adalah tradisi dari TNI AL jika sebuah kapal melintasi garis khatulistiwa.

Suasana pembukaan kegiatan 4 gugus tugas

Pagi ini aku bertugas sebagai tenaga medis, disamping itu aku juga sebagai Pimpinan Kontingen Daerah merangkap sebagai Peserta kegiatan Pelantara III. Upacara pembukaan dimulai jam 8 pagi, ohya disini ada 4 gugus tugas,
salah satunya termasuk Pelayaran Lingkar Nusantara, kami menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Surabaya 591, bersama dengan Generasi Muda Insan Bahari Indonesia.

Didepan KRI Banda Aceh 593

Acara hari ini lumayan padet sebenernya banyak pengarahan dan materi mulai dari Ka. Pinsaka Nasional, Kak Kingkin Suroso sampai dengan BNN. Jam 9 malam kami mulai berlayar ke Makasar, perjalanan ke Makasar memakan waktu 3 hari 2 malam.

Bersama kak Kingkin Suroso

Hari pertama di laut Jawa diawali dengan senam pagi dan apel kelengkapan untuk mengecek kelengkapan peserta Pelantara dan GM IBI, dilanjutkan dengan latihan tarian semaphore sebagai simbol bahwa kapal ini adalah kapal Pramuka. Oh ya, kami dipimpin oleh Dansatgas Kak Barkah, he’s amazing people, beliau bahkan yang berniat membuat Pelayaran ini bener-bener berkesan bagi semua yang ada di kapal.

Latihan Tarian Semaphore

Kegiatan berlanjut di Makasar, disini aku melakukan pesiar keliling Makasar, walaupun hanya di wilayah pelabuhan tapi cukup memuaskan, mulai dari museum La Galigo sampai Pantai Losari. Disini bisa dilakukan hanya dengan jalan kaki loh, jaraknya yang hanya sekitar 5 KM dari kapal membuat beberapa tempat di Makasar dengan mudah dapat dijangkau.

Sampai didepan Port of Makasar

Bertolak ke Tanjung Batu, Berau, Kaltim aku melewati garis Khatulistiwa yang berarti aku harus mengikuti adat mandi Khatulistiwa yang bener-bener dikemas seram waktu itu, tapi seru banget. Intinya aku mandi saat menjelang pagi sebelum matahari terbit 🙂

Mandi Khatulistiwa

Perkemahan Tj. Batu, Berau

Akhirnya aku sampai di tempat perkemahan pertama, yaitu Tanjung Batu, waktu itu kami menggunakan LCVP untuk berlabuh di Tj. Batu. Menuju bumi perkemahan aku lebih memilih jalan kaki dibandingkan dengan menumpang kendaraan.

LCVP ke Tj. Batu

Kegiatan selama di Tj. Batu adalah Lomba Pluit, Lomba Cerdas Cermat Bahari dan lomba LKBB. Aku di Tj. Batu, Berau hanya 3 hari loh, nah kegiatannya itu padet banget, hari pertama kan kedatangan ya, hari kedua itu Lomba, acara pembukaan perkemahan, baksos dan api unggun, nah hari ketiga uda upacara penutupan dan kembali lagi ke kapal. Btw, kontingen Kalimantan Barat juara 1 Lomba Cerdas Cermat Bahari Tingkat Nasional loh.

Ketika Lomba Lomba Cerdas Cermat
Baksos di Tj. Batu

Fyi, sebenarnya lokasi Tj. Batu adalah pintu masuk wisata Pulau Derawan, jadi setelah aku sampai di pelabuhan, bisa saja ke Pulau Derawan, tapi sayangnya biayanya cukup mahal sekitar 300-500 ribu rupiah untuk pulang-pergi speedboat.

Bersama dengan Sangga Kerja Nasional dan Lokal Kaltim

Aku lantas kembali ke KRI Surabaya untuk melanjutkan perjalanan menuju Kwandang, Gorontalo, menempuh perjalanan selama 2 hari 1 malam. Selama dikapal kebanyakan dari kami adalah istirahat dan ada juga yang menyusun strategi untuk lomba selanjutnya. Di Kapal ada juga yang Lomba Senam Pramuka. Aku dari kontingen Kalbar tidak mengikuti lomba lagi, jadi aku lebih memilih istirahat dan normalnya tetap olahraga pagi dan bertugas di pantry, karena waktu itu kena jadwal piket. Oh ya, ada sesi foto bersama juga saat sebelum turun ke Kwandang loh.

Berfoto bersama Kapinsaka Nasional, Dansatgas, Komandan KRI dan Komandan Lanal

Perkemahan Pantai Monano, Kwandang, Gorontalo

Aku tiba di Kwandang itu tanggal 8 September pukul 15.00 WITA dan perjalanan dari pelabuhan ke Bumi Perkemahan Pantai Monano memakan waktu sekitar 1 jam, disini aku berkemah memakai tenda pleton, bukan tenda pribadi atau kontingen seperti perkemahan sebelumnya, dalam satu tenda pleton aku bergabung dengan kontingen Kepri, Banten dan Sultra.

Sampai di Kwandang

Hari ke 2 di Pantai Monano aku dikejutkan dengan bumi bergoyang alias gempa, ya ini adalah pertama kalinya aku merasakan gempa, sebagai orang Kalimantan, gempa adalah kejadian tidak biasa, yang tau saat gempa mereka langsung ke lapangan terbuka, sedangkan aku masih bengong di tenda pleton, dasar aku. Ternyata yang terjadi adalah letusan gunung api bawah laut yang letaknya sekitar 10 KM dari Pantai Monano. Wew, seram juga ya kalau dipikir-pikir, untung saja ga ada tsunami.

Ga tau kenapa aku senyum sendiri 🙂

Tepat pukul 08.00 WITA kami mengadakan Upacara Buka Adat Bhineka Tunggal Ika dan Upacara Pembukaan saat perkemahan. Perkemahan sendiri dibuka oleh Kak Kingkin, setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan tarian nusantara dan terakhir adalah pengibaran Bendera Merah Putih 1000m2. Kegiatan berjalan sesuai rencana dengan dibantu oleh Pramuka, TNI dan masyarakat lokal pada saat pengibaran bendera.

Upacara Buka Adat BTI
Pengibaran Bendera 1000m2

Siangnya aku berjalan menyusuri Pantai Monano, disini aku bisa menemukan padang lamun, bulu babi sampai bintang laut di daerah pantai ini. Dari kejauhan aku juga bisa melihat Bendera Merah Putih berkibar dengan gagah di atas Pantai Monano. Sore harinya ada kegiatan lomba tenda apung dan bangunan pasir. Malam harinya kami mengadakan upacara api unggun yang dipimpin langsung oleh kak Kingking dan sesudah itu pentas seni sampai larut malam.

Bintang Laut
Latar belakang Bendera Merah Putih 1000m2
Acara Api Unggun yang dipimpin Kak Kingkin

Kegiatan hari ini dimulai dengan upacara tutup adat BTI dilanjutkan dengan pembagian hadiah lomba selama kegiatan Pelayaran. Sore harinya kami langsung bertolak ke Pelabuhan untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Makasar, oh ya, di kapal dari Kwandang ke Makasar kapal tidak bisa mengisi air dipelabuhan Kwandang untuk bekal berlayar, alhasi, kami ga mandi 2 hari :’) Kegiatan selama berlayar salah satunya adalah tali temali dan uji TKK bahari dan malam hari sebelum tiba di Makasar kami mengadakan perpisahan dengan kontingen yang turun di Kota Makasar.

Penyerahan Hadiah Juara 1 LCC Tingkat Saka bahari Nasional oleh Kak Barkah

Aku sampai di Kota Makasar pada siang hari, sore harinya aku langsung pesiar ke Pantai Losari. Kegiatan di Makasar adalah menanam Mangrove di Pantai Untia, oh ya, pas di Makasar, sepatu yang aku pake rusak, jadi aku meminjam sepatu dari kontingen lain. Jadi saat kegiatan tanam mangrove aku memakai sepatu putih, duh malunya. Menuju lokasi tanam mangrove, aku menggunakan truck yang sudah disiapkan oleh panitia, untungnya dalam truck tidak berdesakan seperti sebelumnya 🙂

Lokasi Penanaman Mangrove, maafkan soal sepatu :’)

Bertolak ke Jakarta kami sempat melewati jalur laut tengelamnya kapal Tampomas II dan malam terakhir di Laut Jawa kami mengadakan perpisahan dan ikrar sebagai Pramuka Bahari Indonesia. Setelah 2 hari berlayar, kami tiba di Kolilanmil tepat sebelum tengah malam dan akhir dari kegiatan ini adalah aku mengunjungi Sea World Ancol dan saatnya kami kembali ke daerah kami masing-masing 🙂

Sea World Ancol

Terimakasih Pelantara III, banyak kejadian dan pengalaman yang aku dapatkan disini. Galleri foto akan segera di upadate 🙂

Udah dulu ya, capek nulis dan ingat-ingat yang sudah lewat 7 tahun 🙂
Salam,


Yandy Koresy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *