Siapa sih yang sekarang ga tau dengan Gunung Semeru? ya, gunung yang populer karena film “5 CM” ini memang menjadi fenomena loh, selain ada Ranu Kumbolo yang indah, Puncak Mahameru juga menjadi magnet tersendiri saat mendaki gunung ini. Tapi kali ini aku lagi pengen ngabahas sesuatu yang sebenernya memang ada di Gunung Semeru, cuma cara menghormatinya aja yanng salah.

Cerita ini adalah pengalaman pertama aku naik Gunung Semeru, tepatnya tahun 2016, Gunung Semeru sendiri merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa, dengan ketinggian 3676 mdpl (meter di atas permukaan laut), tepatnya Agustus 2016, jadi waktu itu aku mencari barengan supaya bisa memangkas biaya perjalanan. Ya, lumayan sih yang harusnya keluar 1,2 juta aja untuk jeep karena ada barengan jadi bayarnya hanya 150 ribu doang. Mungkin total aku keluar uang untuk ke Semeru waktu itu hanya sekitaran 500 ribuan dari stasiun Kota Malang loh ya. Oh ya, kenapa bisa sampe 500 ribuan karena aku stay di homestay sebelum dan sesudah pendakian, selain itu juga ada biaya logistik dan biaya sikmasi.

The Team

Langsung lanjut ke pendakian ya, planning pendakian kali ini, kami mendaki selama 4 hari 3 malam, btw, aku ikut rombongan dari Jakarta, jadi ngomongnya kebanyakan pake “Gue dan Lo” tapi buat aku asing aja kalau ngomongnya seperti itu, hehe.. Aku mulai start pendakian dari pukul 14.00 dan sampai di Ranu Kumbolo pukul 20.00, kenapa bisa lama? karena ada anggota tim barengan kami yang mengalami hipotermia saat istirahat di Pos 4 sebelum Ranu Kumbolo. Malam ini pun terasa capat, mungkin karena aku uda kecapekan, sampai di Ranu Kumbolo, makan sedikit langsung tidur aja.

Pagi di hari kedua, seperti biasanya pada musim kemarau jika di Ranu Kumbolo pastinya bakal sejuk banget, waktu itu temperatur menunjukan -2 derajat celcius, bisa di bayangkan dong sedingin apa, brrrr… Setelah menikmati pagi dengan berfoto dan makan pagi, aku lantas berkemas dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Perjalanan ke Kalimati ini cukup menguras waktu, jalan dari pukul 11.00 siang, aku baru sampai di Kalimati pukul 17.00, kondisi tim kami semua pada kecapekan karena mungkin tidak siap saat jalur di Cemoro Kandang sampai dengan Jambangan.

Nah sore itu kami suadah kehabisan air untuk minum dan memasak, karena teman-teman dari jakarta sudah kecapekan, aku berinisiatif untuk ambil air yang sebenernya sudah di peringatkan untuk tidak mengambil air jika sudah mendekati magrib, apalagi masih banyak hewar liar yang bekeliaran, salah satunya panthera pardus, atau macan tutul.

Disinilah awal mula cerita horror itu terjadi, aku ga tau ya apa yang akan terjadi kalau aku gagal memanajat tebing yang letaknya persis ada di belakang camp ground Kalimati. Awal ceritanya aku berjalan ke Sumber Mani/ mata air yang berjarak 2 kilometer dari kalimati untuk mengambil air, pada saat pergi sebenernya aman-aman saja, aku juga sudah ambil air sekitar 6 liter untuk dibawa ke Kalimati, nah sebenernya disini aku sudah salah, karena ga boleh sendirian ke Sumber Mani saat magrib. Jujur saat itu aku ga liat jalan untuk pulang ke Kalimati, bahkan jalurnya hanya satu dan sampailah aku di jalan buntu berbentuk tebing itu. Btw aku udah jalan sekitaran 30 menit loh dari Sumber Mani dan belum sampai lagi ke Kalimati hingga akhirnya tersesat diantara tebing itu, sedangkan aku hanya butuh sekitaran 10 menit dari Kalimati sampai ke Sumber Mani. Disinilah sebenernya aku sudah putus asa, aku hanya membawa tas berisi air dan jam tangan sebagai pengingat waktu, ketika sampai di tebing sudah pukul 18.10 menit gitu, aku ga mungkin kembali ke Sumber Mani dan pilihan aku cuma ada 2 yaitu, tunggu pertolongan teman yang mencari/memanjat tebing itu. Fyi, tebing itu mempunyai tinggi kurang lebih 6 meter dan material tebing itu di dominasi sama tanah, sudah kebayang belum susahnya manjat tebing tanah seperti apa? Ditambah lagi aku tidak membawa hp dan senter untuk penerangan.

Singkat cerita, Tuhan baik sama aku, aku bisa memanjat tebing itu walaupun sempat terpeleset tapi syukurnya tidak jatuh sampai dasar. Aku ingat sekali, aku berhasil keluar dari tebing itu pukul 18.28 dan sempat sedikit kebingungan, karena navigasi aku sudah salah dan aku naik dari tebing sudah di belakang camping ground yang dimana jauh sekali dengan jalur utama menuju ke Sumber Mani, gila banget deh pokoknya. Sampai akhirnya aku ke tenda itu sekitaran pukul 18.35. Nah itu temen-temen dari Jakarta uda pada mau nyusulin aku ke Sumber Mani, untungnya aku tepat waktu untuk kembali.

Setelah masak makan dan tidur, aku bangun sekitaran pukul 23.00 untuk persiapan ke Puncak Mahameru. Pukul 00.00 kami menuju puncak akan tetapi di tengah perjalanan rombongan dari Jakarta salah satu anggotanya sudah tidak sanggup lagi untuk mendaki sampai puncak, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk turun dan aku masih lanjut untuk mencapai puncak di temani salah satu anggota dari teman Jakarta. Sebenernya tidak masalah kalau tidak di temanin, soalnya mereka yang mendaki ke puncak juga rame.

“Aku “

Pukul 06.12 adalah pertama kali aku mencapai Puncak Mahameru, sangat bersyukur terlepas dari kejadian kemarin sore. Setelah merenung dan berswafoto, aku turun ke Kalimati sekitaran pukul 07.00 dan sampai ke Kalimati jam 08.00. Kenapa bisa cepat? tanya saja yang sudah pernah ke Puncak Mahameru. hehehe…

Cerita jalan pulang dan horrornya lanjut minggu depan yak 😀

Avatar yandykoresy

Author: yandykoresy

Free Diver, Drone Pilot and Tour Guide

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *