Hari ini aku mau lanjutin cerita tentang “Gunung Semeru” yang pernah aku alami, kalau belum baca ini linknya. Rakuman perjalan di part I adalah saat aku mendaki dan tersesat di Sumber Mani saat mau balik ke kemping area Kalimati.
Setelah aku turun dari puncak Mahameru, rombongan dari Jakarta memutuskan untuk stay di Kalimati karena mereka memutuskan untuk kembali mencoba mendaki Puncak Mahameru, sedangkan aku turun dengan beberapa orang menuju Ranu Kumbolo, lagi – lagi perjalanan turun dari Kalimati, Jabangan, Cemoro Kandang, Oro-oro Ombo sampai Ranu Kumbolo terasa cepat, ya mungkin karena jalurnya menurun ya.
Sampai di Ranu Kumbolo sekitaran jam 4 sore dan Ranu Kumbolo masih sepi dari pendaki (karena rata-rata pendaki sampai ke Ranu Kumbolo saat malam hari) setelah mendirikan tenda dan masak serta makan, aku sempat berkumpul sejenak dengan rombongan pendaki lainnya termasuk pendaki dari Lombok (nah dsinilah awal kenapa aku bisa lanjut sampai Gunung Rinjani)
Malam di Ranu Kumbolo terasa sangat dingin, aku sempatin diri cari kehangatan, karena memang di Ranu Kumbolo memang ada porter dan pemandu yang minghidupkan api unggun saat malam-malam, kita disana bisa berbagi cerita atau cuma hangatin badan aja. Kata orang disana karena efek musim kemarau dan bener saja ketika pagi-pagi aku bangun, butiran es ada di atap tenda, bahkan minyak goreng menjadi beku, wkwkwk
Sambil menunggu rombongan dari Jakarta sampai ke Ranu Kumbolo, aku masih sempatin tidur di Ranu Kumbolo di tempat porter dan pemandu, karena perkiraan aku kalau dari puncak menuju Ranu Kumbolo sampainya jam 1 atau 2 siang gitu, eh ngaret dong sampai jam 3 sore, hehe
Jalan dari Ranu Kumbolo sekitar jam 4 sore sebenernya ga ada kendala berarti sih, jalan seperti biasa melewati berbagai pos di Gunung Semeru sampai di Pos 1, nah sampai di Pos 1 itu sudah jam setengah 7 malam. Sebenernya ga ada yang janggal sih, tapi semuanya berubah setelah dari Pos 1.
Pada umumnya kalau jalan turun dari Pos 1 sampai desa Ranu Pani sekitar 1 jam itu sudah paling telat, akan tetapi setelah beberapa lama kami berjalan, kok sepertinya ada yang aneh, tapi kami masih berpikir positif waktu itu, memang jauh dari Pos 1 menuju Desa Ranu Pani, sebenernya aku pribadi juga ngerasa aneh, karena kontur tanah yang dilalui itu aja, yang pernah ke Gunung Semeru pasti paham, karena selain kontur tanah, ada juga jalan paving blok, nah kebetulan yang aku rasakan ngelewatin kontur tanah ini berkali-kali.
Sampai akhirnya ketua rombongan dari Jakarta ngerasa ada yang aneh dan mehentikan langkah untuk berkumpul dan berdoa. Sebenarnya selama jalan aku pribadi ga ngeliat apa-apa yang aneh, akan tetapi hanya perjalanan aja yang rasanya cuma di tempat dan ga kemana-mana. Setelah berkumpul dan berdoa, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya kami sampai ke Pos bayangan, disitulah kami ngerasa legah. Turun dan sampai ke Ranu Pani itu sekitaran jam 9 malam, bayangin kan 2 jam perjalanan turun dari Pos 1 ke Ranu Pani. Padahal yang punya jeep yang akan menjemput kami sudah panik, karena sudah ga ada kabar. Oh ya, kami ngabarin jeep kami pas kamu berada di Pos 2 itu sekitaran jam 6 sore dan asumsi supir jeep kami sampainya jam 7 malam atau paling telat jam 8 malam, hehe
Sampai di basecamp bang Jaka inilah kami baru cerita satu sama lain soal perjalanan turun itu, sebagian besar rombongan dari Jakarta “katanya” melihat bayangan hitam selama jalan pulang setelah Pos 1, jadi mereka bilangnya kita masuk bayangan hitam terus menerus sampai akhirnya saat berkumpul dan berdoa bayangan itu hilang, kalau aku pribadi malah menganggap itu wajar, apalagi lagi kabut karena dataran tinggi.
Entahlah, yang pasti kami selamat sampai turun dan berkumpul bersama keluarga kembali, walaupun sampai sekarang aku masih penasaran, kok bisa selama itu perjalanan dari Pos 1 menuju Desa Ranu Pani. Ada yang pernah ngerasain juga saat naik Gunung Semeru?