Laut adalah sumber kehidupan, tapi yang katanya sumber kehidupan sekarang makin tercemar. Faktor paling utama dan pelaku utama adalah manusia itu sendiri, entah itu karena kebiasaan atau memang sudah niat mengotori lautan. Tercemarnya lautan dari manusia bisa melalui plastik, baik itu botol plastik, bungkusan plastik, serta barang apapun yang dibuang ke lautan.
Sebelumnya aku adalah seorang pemandu untuk kegiatan di alam bebas seperti di gunung dan di kepulauan. Cuma ini adalah unek-unek yang sudah terjadi sejak 2016 lalu, yang dimana orang pulau dengan santainya bisa langsung membuang sampah ke lautan. Aku sedang konsisten membawa tamu ke pulau dalam hal ini adalah Pulau Lemukutan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat dan aku akan berbagi seberapa besar ancaman yang terjadi dengan kebiasaan orang yang ke pulau terhadap lingkungan.
Di lautan Pulau Lemukutan tidak hanya ada plastik yang mencemari lautan, akan tetapi berbagai jenis sampah ada disini dan musim sampah akan terjadi jika angin utara berhembus. Terdamparnya berbagai sampah di pulau dan pastinya mencemari lingkungan. Kalau 4 tahun lalu ketika ada angin besar dan air laut lagi keruh, mungkin 2-3 hari air laut akan kembali jernih lagi. Jika sekarang, mungkin butuh 1 minggu untuk pemulihan air laut, itupun kalau tidak ada angin laut lagi.

Kalau didalam laut Pulau Lemukutan sedang gawat-gawatnya, terutama perilaku wisatawan yang tidak mau diedukasi tentang bawah laut. Seenaknya menginjak trumbu karang padahal pemandu sudah mengedukasi wisatawan, nanti kalau keinjak Bulu Babi yang disalahkan pemandu wisatanya. Padahal berbagai tempat snorkeling sudah dibuatkan safety zone agar wisatawan tidak merusak terumbu karang dan terhindar dari bahaya dalam laut. Ada lagi yang wisatawan datang tanpa pemandu dan merusak populasi Kerang Kima, dimana biasanya Coral Brain tempat Kerang Kima berkembang biak dihancurin dan dicongkel agar Kerang Kima-nya bisa di ambil. Fyi, Kerang Kima adalah makluk hidup yang dilindungi sama serperti ikan Napoleon di perairan Pulau Lemukutan.
Maraknya perburuan Ikan Kakaktua juga menjadi ancaman, inilah dinamika yang terjadi, masih banyak warga dan wisatawan yang belum tau jika ikan Kakaktua adalah salah satu faktor pendukung dilautan, dimana ikan ini bertugas untuk membersikan alga di terumbu karang dan kotoran ikan ini kelak akan menjadi pasir putih disepanjang pantai. Jadi kalau ada pulau berpasir putih, kamu lagi menikmati hasil kerja keras ikan Kakaktua.

Mikro plastik dan mercury yang terdapat pada ikan kosumsi seperti Ikan Tongkol, Ikan Tenggiri dan Ikan Tuna, jangan tanya ini salah siapa, ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Mercury di ikan berukuran besar biasanya terjadi karena limbah pabrik yang di buang ke laut, dan mikro plastik biasanya karena ikan memakan plastik dari sampah manusia.

Kejadian yang akan terjadi dikepulauan nanti adalah ketika sehabis hujan, maka sampah akan melewati lautan karena kebawa arus air laut, terus limbah seperti minyak yang menggumpal dilautan. Kejadian ini biasanya terjadi saat hujan lagi lebat-lebatnya dan pasang surut air laut yang membawa sampah dari daratan hingga sampai dilautan.

Solusinya gimana? aku dari tahun 2018 sudah berkomitmen untuk memakai galon walaupun harus mengangkut sejauh 700 meter menuju penginapan untuk mengurangi sampah plastik gelas dan botol. Belum lagi sekarang ada kecendrungan memakai piring sekali pakai yang membuat sampah jadi susah dikendalikan. Padahal sudah bagus menurutku memakai pakai piring dengan konsep dibersikan dan dicuci kembali. Mungkin cost untuk tukang cuci piring gede makanya dihilangkan. Tapi aku tetap berusaha serve tamu aku memakai piring yang bisa dicuci berulang agar dapat mengurangi sampah tempat makanan.
Untuk bawah laut sekarang aku lebih membuat jalur agar mereka kalau mau snorkeling dan berfoto dengan nemo tidak merusak terumbu karang, beda cerita kalau memang mau snorkeling di tempat yang dalam dan melihat keindahan laut, aku pasti akan pandu dan bawa tamu aku ke tempat yang aman sembari menikmati keindahan laut. Disisi yang lain, aku juga berusaha untuk transplatasi trumbu karang secara mandiri agar laut sekitar tempat aku membuat trip terjaga.

Tentu yang aku lakukan ada pro dan kontranya, kebanyakan kontra sih, karena harus mengubah kebiasaan penduduk dan wisatawan agar lebih menjaga alam. Mustahil? enggak, banyak kok yang masih mau mendengar, mengerti dan melakukannya. Paling yang susah itu ya berbicara dengan orang yang lebih tua dan memberikan pengertian ke orang tersebut. Tapi ya lakuin aja dulu gak sih, daripada ga ada aksi sama sekali. hehe